Pulau Rempah-rempah yang Ditukar dengan Manhattan, New York | Visit Banda Naira

Pulau Rempah-rempah yang Ditukar dengan Manhattan, New York

Perjanjian Breda tahun 1667 yang mengakhiri perang Anglo-Belanda kedua, pulau Run Banda Naira ditukar Dengan Manhattan, kini New York

pulau run kepulauan banda yang ditukar dengan manhattan

Sepuluh ribu mil dari New York (dulu Manhattan), penduduk Run masih hidup dari pala dan pancing.

Tiga ratus lima puluh tahun yang lalu, sebuah tanah rawa yang disebut Manhattan diperdagangkan untuk sebuah pulau vulkanik kecil yang sekarang merupakan bagian dari Indonesia. Hari ini, salah satunya memiliki Times Square dan yang lainnya hanya diterangi listrik lima jam sehari.

Bagi orang Inggris, dan kemudian Amerika, ternyata ini menjadi salah satu pertukaran teritorial terbaik di dunia. Tapi kisah tentang bagaimana New Amsterdam menjadi New York juga memiliki babak Pasifik - dan ini mengarah ke Pulau Run, sebidang tanah yang sangat kecil sehingga tidak terdaftar bahkan di sebagian besar peta di Indonesia.

Di bawah Perjanjian Breda tahun 1667 yang mengakhiri perang Anglo-Belanda kedua, Inggris mempertahankan Manhattan, yang telah disita dari Belanda tiga tahun sebelumnya, sementara Belanda mendapatkan Run, yang merupakan satu-satunya pos terdepan bangsa Inggris di Kepulauan Rempah-Rempah.

Belanda akhirnya merealisasikan mimpinya tentang monopoli pala, karena 10 Kepulauan Banda adalah rumah bagi semua pohon pala di dunia. Baru pada abad ke 19, Inggris menemukan cara mengkultivasikannya di Malaysia dan India, menghasilkan aset dari bumbu tersebut.

Pala masih tumbuh dengan subur di Run, menghasilkan panen besar tiga kali dalam setahun. Sebagian besar dari beberapa ratus penduduk pulau itu memiliki petak di hutan. Dari tepi hutan, rumah-rumah beratap seng mereka berjejer ke pantai.

Samima, seorang nenek seperti kebanyakan orang Indonesia yang hanya menggunakan satu nama, mengeringkan biji pala dan memisahkannya dari penutup biji - di terasnya. Dia menjualnya seharga Rp. 75.000 per kilogram.

"Harga stabil, jangan khawatir," katanya. "Kalau tidak, kita tidak punya uang untuk makan, kan?"

Tapi Run, di tepi hiruk-pikuk dunia modern yang saling terhubung, begitu sunyi.

Senja di dermaga pulau Run Kepulauan Banda
Senja di dermaga pulau Run Kepulauan Banda
foto oleh instagram jaladwara_wisataarkeologi

Sebuah dermaga tunggal yang mengular ke laut, adalah jalan utama. Penduduk setempat membawa pulang hasil tangkapan setiap harinya. Balita bermain di tepi pantai. Tidak ada mobil, internet, telepon genggam atau surat kabar. Namun, sebagian besar rumah memiliki televisi.

"Sebelum TV? Cukup sulit untuk mendapatkan berita. Saya harus pergi ke Naira, " ibu kota Kepulauan Banda, kata Abdullah, pemilik wisma di pulau Run.

Sugianti, ibu dua anak, mengeluh bahwa dia harus pergi ke Naira untuk menggunakan Facebook. Dia dan temannya Tia bertemu hampir setiap malam di salah satu rumah orang tua mereka dan menonton acara televisi hingga listrik dipadamkan pada jam 11 malam.

Mereka sangat antusias dengan "Festival Manhattan" bulan Oktober yang memperingati Perjanjian Breda, yang akan diselenggarakan di Kepulauan Banda, walaupun sebagian besar penduduk pulau tidak tahu apa yang dirayakan tentang Run.

"Dulu adalah bagian dari Belanda, dan sekarang bukan?" Menurut seorang pemuda. Kebanyakan orang tidak tahu apa itu "Manhattan" - kecuali nama dua wisma tamu setempat.

Tapi Momen, ayah Sugianti, lebih tahu. "Pulau ini berisi sejarah dunia," katanya. "Ini adalah sejarah yang hebat. Jika bukan karena kita, orang Amerika akan berbicara bahasa Belanda. " Penduduk pulau itu, katanya, telah tunduk pada peraturan yang dibuat Portugis, Inggris, Belanda, Jepang dan sekarang Indonesia - yang kesemuanya meninggalkan mereka sendiri.

"Kita tidak perlu kaya," katanya. "Kita hanya butuh cukup uang untuk makan. Hidup itu sederhana di sini."

Pala, Cengkih, Fuli, Kayu Manis, rempah rempah banda
Rempah-rempah Kepulauan Banda Pala, Cengkih, Fuli, Kayu Manis
foto instagram @visitbandanaira

"Hanya ada empat profesi di sini untuk para pria," kata Abdullah, menghitung dengan jarinya: "Petani, nelayan, pedagang, dan pelaut."

Pada tahun 1621 orang Belanda membantai orang-orang Banda, menusuk dan memajang kepala mereka pada bambu – yang menurut Belanda ini adalah balasan atas pelanggaran sebuah perjanjian – yang mana menurut orang Banda perjanjian tersebut sangat merugikan mereka. 1.000 atau lebih penduduk pulau yang tersisa dari populasi pra-penaklukan berbaur dengan 15.000 orang yang dipaksa melakukan perbudakan.

Orang-orang Banda perlahan-lahan merekonstruksi kembali diri mereka sebagai entitas berbagai bangsa. Di kepulauan yang telah berdagang dengan orang Arab, Cina dan India jauh sebelum penjajahan, kebanyakan penghuninya adalah Muslim yang taat.

Keterpencilan Run berarti keterbatasan kontak dengan birokrasi Indonesia atau layanan publik. Ada sekolah dan klinik kecil tapi bahkan listrik paruh waktu pulau itu disediakan secara pribadi, oleh seorang pengusaha.

Anak muda Run sering mencari pekerjaan di luar pulau. "Saya menghabiskan enam tahun dengan kapal nelayan, dari usia 17 sampai 23, sebagian di Taiwan tapi kebanyakan di dekat Jawa, memancing tuna," kata Yudi, 30. Dia memperkirakan sekitar 100 pemuda dari Run juga memiliki pekerjaan yang sama. Kerja kerasnya terbayarkan, katanya, karena dia bisa membeli kapal sendiri.

Iskandar, seorang guru sekolah, mengatakan bahwa dulu ada lebih banyak pohon pala. "Tapi itu sudah cukup bagi kita. Anda tidak melintas di hutan ini tanpa [menemukan pala dan] menghasilkan uang. "

Orang-orang Run tetap berada di ujung dunia. "Seperti apa Manhattan?" Tanya Sifa. "Setelah anak-anak saya tumbuh dewasa, saya berharap bisa sedikit bepergian. Pertama ke Ambon [ibukota provinsi], dan mungkin Surabaya, dan kemudian ...???? Yah, coba anda ke sini lagi nanti. "

foto utama oleh instagram ria_bethan

COMMENTS

loading...
Name

Artikel,19,Banda Islands,4,Banda Naira,6,Banda Neira,6,Benteng,4,Berita,1,buzz,1,Film,1,fotografi,1,Kepulauan Banda,4,Nieuws,3,Nieuws Pendidikan,1,Perjanjian Breda,2,Pulau Run,2,Run Manhattan,2,Sejarah,6,Tips,1,Treaty of Breda,2,Video,1,Wisata,14,Wisata Bahari,7,Wisata Budaya,1,Wisata Sejarah,4,Wisata Selam,6,
ltr
item
Visit Banda Naira: Pulau Rempah-rempah yang Ditukar dengan Manhattan, New York
Pulau Rempah-rempah yang Ditukar dengan Manhattan, New York
Perjanjian Breda tahun 1667 yang mengakhiri perang Anglo-Belanda kedua, pulau Run Banda Naira ditukar Dengan Manhattan, kini New York
https://4.bp.blogspot.com/-stVASNjyB-k/WZ0DGiHf4PI/AAAAAAAAAP0/dkaf09vo7RcExXOv66J4S3dRDVdBv4jYQCLcBGAs/s320/pulau-run-kepulauan-banda-foto-oleh-ria_bethan.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-stVASNjyB-k/WZ0DGiHf4PI/AAAAAAAAAP0/dkaf09vo7RcExXOv66J4S3dRDVdBv4jYQCLcBGAs/s72-c/pulau-run-kepulauan-banda-foto-oleh-ria_bethan.jpg
Visit Banda Naira
https://www.bandanaira.net/2017/08/pulau-rempah-rempah-yang-ditukar-dengan-manhattan-new-york.html
https://www.bandanaira.net/
https://www.bandanaira.net/
https://www.bandanaira.net/2017/08/pulau-rempah-rempah-yang-ditukar-dengan-manhattan-new-york.html
true
7607241972246855887
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy